![]() |
SISA SEMANGAT AIS |
“Heyy,, matahari..........
Lihatlah aku,,!!
Hari ini dunia pasti takluk di tangan ku...” Dengan semangat yang menggebu-gebu, gadis berusia 9 tahun itu, bersuara lantang menyeru matahari.
Badannya kurus, hanya menggunakan kaos lambreng, warnanya pun sudah sulit ditebak. Kulitnya sawo matang, rambutnya yang sebahu acak-acakan. Kalau di lihat lebih seksama, sebenarnya dia adalah gadis yang cantik. Halisnya yang hampir menyatu, hidungnya mancung relatif orang Indonesia, bibirnya tipis dan dagunya pun seperti bulan sabit. Hanya saja kecantikannya sudah tertutup debu-debu jalanan.
Dengan ditemani sebuah gitar kecil, Aisah atau yang lebih akrab dipanggil Ais itu, bergabung dengan teman-teman sesama musisi jalanan. Berusaha mengeluarkan bakat seninya. Mereka bernyanyi dengan diiringi gitar atau kecrek yang menjadi sahabat mereka.
“Ais...bagaimana konsermu hari ini?? Banyak kah dermawan yang membayar konsermu??hehe” Tanya Azis, teman satu propesinya.
“Alhamdulillah Zis,, masih banyak kok, para dermawan yang mau membagi sedikit rezekinya pada kita anak jalanan. Perlakuan mereka pun sangat sopan sekali, untuk sekelas kita para pengamen. Ya....walau mukaku sering dilempar uang receh oleh mereka, ataupun kadang-kadang tidak sedikit dari mereka yang mencela dan memandangku sinis. Paling tidak, aku masih bisa makan karena kebaikan mereka.” Jawab Ais, sedikit menyindir dengan kata-kata yang diperhalus.
“Dermawan sih dermawan,, tapi gak gitu juga kali......
Kalo mereka gak ikhlas ngasih, ya sudah mendingan gak usah sekalian...” sambung Rini, teman satu profesi Ais.
“Yeeee,, gimana sih kamu....
Kalo mereka gak ngasih, mau makan apa kita,??”
Batu,?? Biarian ajah lah, itu urusan tuhan dengan mereka. Yang penting perut kita terisi dan masih bisa menyambung hari esok.” Jawab Azis.
“Yaa makan nasi lah......
Kamu tuh,,yang harusnya makan batu....!!!” lawan Rini agak ketus.
“Sudah....sudah....!! kok,, jadi kita yang ribut sih.....
Sudahlah kita jalanin hidup kita dengan semangat saja. Ya,, mudah-mudahan saja orang-orang dermawan di negri kita, tidak akan pernah habis.” Ucap Ais sedikit menenangkan.
Setelah itu, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Dengan tubuh yang lemah, pakaian kumal, dan wajahnya pun sedikit hitam karena terpulas oleh debu-debu jalanan.
***
Suara azan, berkumandang kembali. Mendayuh, memecah sepinya malam. Kicawan nada-nada merdu yang berasal dari produk Jepang (mobil, motor dan sebagainya.) mengalun di antara suburnya gedung-gedung pencakar langit.
Dengan langkah sempoyongan, dan aroma alkohol yang menyengat hidung. Sosok brewokan mirip preman itu, berjalan disebuah gang sempit. Pemukiman kumuh yng dipadati oleh masyarakat pinggiran, menjadi saksi bisu kerasnya kehidupan. Sambil menggenggam satu botol minuman, laki-laki itu, berjalan menuju depan rumah Ais.
“Onah...Nah....Onahhhhhh??
Buka pintu,,!!!” Ujar laki-laki tersebut.
Satu sosok ibu paruh baya, keluar dari balik pintu.
“Oh....ternyata sang raja toh yang menggedor-gedor pintu. Pagi-pagi buta begini,,tidak tau malu yah....
Mau apa kamu pulang? Masih ingat jalan pulang?” ujar Onah ibu Ais.
“Jangan banyak bicara kamu,,! Aku ke sini mau minta uang...
Mana uang,,?? Di mana kamu menyimpan uangnya,hah....??”
Terjadilah pertengkaran hebat, antara Ibu Ais dan laki-laki brewok itu.**
Ais sangat terkejut, ketika melihat ibunya sudah terkapar di bawah. Saat kejadian itu berlangsung, ais memang sedang pergi ke air, yang berada lumayan jauh dari rumahnya.
“Pasti bapak yang sudah melakukan ini semua. Ya Allah, kapan bapak hamba akan tersadar dan berhenti mabuk-mabukan. Kasihan ibu hamba.”
Dengan air mata yang berjatuhan, Ais mencoba menyadarkan ibunya.
***
Matahari sudah mulai bersembunyi di balik tireynya. Malampun menyambut gelap dengan murung. Perasaan sedih yang bercampur aduk dengan kelelahan, telah menguasai jiwa dan pikiran Ais. Kecemasan akan ibunya di rumah, membuat Ais kurang konsentrasi dalam mengais rezekinya hari ini.
“Mana hasil kamu hari ini??” tanya Onah sambil tolak pinggang di depan pinti rumah.
“Ibu... bagaimana keadaan ibu?” tanya Ais cemas.
“Sudahlah tidak usah sok perhatian.. kamu senang kan dengan keadaan saya seperti ini,? Jangan fikir kamu bisa mengambil hati saya yah....cari uang dulu yang banyak, baru saya bisa merubah kebencian saya pada kamu.!!”
Perasaan khawatir Ais terhadap ibunya, selalu dibalas dengan kesinisan. Dari dulu, Onah memang tidak pernah menyukai Ais. Setiap perhatian Ais yang di tunjukan padanya, tidak pernah diterima dengan baik oleh Onah. Hal ini karena, darah yang mengalir di darah Ais adalah darah laki-laki yang sangat ia benci, yaitu suaminya sendiri. Ia hanya bisa meluapkan emosinya pada Ais saja.
“Ya Allah, sampai kapan ibu akan membenciku terus,? Tolong sampaikan padanya, bahwa hamba sangat menyayanginya.” Ujar Ais dalam hati.
Air matanya berlinang tak tertahan. Ia berjalan menuju tempat terasing dari keramayan dunia. Tempat ternyaman yang selalu ia datangi ketika dadanya sudah sesak dan hampir sulit untuk bernafas. Bukan istana megah yang menawarkan kemewahan ataupun kenikmatan dunia. Tak ada AC, ataupun barang sejenisnya yang dapat mendinginkan suasana hatinya. Ya..... hanya sebuah gerbong karatan, yang tidak memiliki atap atau pelindung, disaat hujan maupun panas. Gerbong kereta yang sudah lapuk di makan usia itu, menjadi istana ke dua bagi Ais.
Sambil memandangi langit yang penuh dengan taburan bintang, ingin rasanya Ais berteriak.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.........”
Dadanya terasa sesak, jiwanya serasa tidak menapak lagi, pikirannya pun di penuhi dengan bayangan-bayangan kelam yang menyiksa batinnya.
“Begitu banyak bintang yang bersinar malam ini. Semuanya terlihat indah. Semua orang mengagumi cahayamu. Walaupun jauh, tetap saja masih bisa terlihat. Mengapa?? Mengapa hanya aku yang tidah bersinar?!?”
Air matanya berjatuhan. Bagai hujan deras yang membasahi bumi. Hatinya berkata, mengapa dirinya tidak pernah berarti dimata ibunya. Bukan kasih sayang tulus yang ia terima, melainkan kebencian yang teramat dalam. Kasih sayang yang sewajarnya diterima oleh gadis-gsdis kecil seusianya, tidak pernah ia dapatkan. Meskipun ia sudah bekerja keras untuk membahagiakan ibunya, tetepi itu tidak membuat hati ibunya luluh.
***
Siang itu, matahari sedikit menggeliat. Membuat suhu bumi naik beberapa derajat dari biasanya. Anak-anak jalanan yang biasanya mencari sesuap nasi di keramayan lalu lintas, menjadi pemandangan rutin ibu kota.
Rasa lelah dan lapar menyergap tubuh Ais siang itu. Keringatnya bercucuran, menyatu dengan debu-debu polusi kendaraan. Belum lagi suara keroncongan yang berasal dari perutnya. Walaupun begitu, ia tetap tidak menghiraukan fisiknya sendiri. Dalam pikirannya, hanya ada satu ambisi yaitu, mencari uang sebanyak mungkin agar bisa membahagiakan ibunya, dan ia tidak harus dimusui lagi oleh ibunya.
Langkahnya selalu tertuju pada rambu-rambu lalu lintas. Setiap lampu merah menyala, pasti ia akan menunjukan bakat menyanyinya itu pada kendaraan-kendaraan yang berhenti. Suaranyapun memang cukup enak di telinga. Walau tanpa iringan musik lenngkap, lagu yang ia nyanyikan, selalu membuat takjub orang yang mendengarnya.
Kelelahan yang menyergap tubuhnya, tidak bisa ia tahan lagi. Tenggorokannya semakin kering. Perutnya semakin sakit. Ia pun memutuskan untuk mencari tempat berteduh. Langkahnya tertuju pada sebuah pohon besar yang biasa ia sandari.
Tidak jauh dari lampu merah tempat Ais mengamen, melaju sebuah kendaran yang cukup kencang.
“wah, saya harus menaikan kecepatan nih...mumpung masih lampu hijau...” pikirnya. Tiba-tiba muncul sosok gadis kecil dari pinggir jalan. Ia pun sontak mengerem kendaraannya itu.
“Awasssss.....!!!!”
“Aaaaaaaaaaaaaaaaa...........”
Dengan refleks, pengendara itu mengerem mobilnya. Tubuh Ais yang kecil, tergeletak tepat di depan mobil Avansa hitam.
“Nak...Nak... bangun!!” ucapnya dengan perasaan gemetar.
Mata yang tadinya tertutup, mulai sedikit bergerak-gerak.
“Ayo,, buka matamu nak..! kamu tidak apa-apa???” serunya.
“Apa yang terjadi? Mengapa kepalaku pusing sekali.” Ujar Ais sambil memegang kepalanya itu.
“Kamu hampir tertabrak oleh bapak. Tadi kamu tiba-tiba muncul begitu saja.” Jawabnya.
Tidak ada setetes darahpun yang mengucur dari tubuhnya. Hanya lecet sedikit di sikut tangan kanannya, dan itupun tidak terlalu parah. Ia pingsan bukan karena disebabkan oleh luka yang parah, namun karena sudah dua hari perutnya tidak terisi nasi.
“Aduhhh.... perutku sakit sekali.” Keluh Ais.
“Kamu belum makan nak?” tanya pengemudi itu. Aispun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ya sudah,, bawa gitarmu itu.!! Ayo Saya ajak kamu makan.”tambahnya.
“Tidak pak, Saya tidak mau menghabiskan uang saya untuk membeli makanan enak. Saya harus mengumpulkan uang banyak untuk ibu.”
Sambil tersenyum kecil, laki-laki yang berwajah ramah itu berkata pada Ais
“Biar saya yang bayar. Kamu hanya makan saja. Ya.... anggaplah ini sebagai permintaan maaf saya. bagaimana??” Ais pun menganggukkan kepalanya.
***
Perbincangan pun terjadi antara bapak pengebudi tadi dengan Ais. Ais menceritakan semuanya dari alasan ia mengamen, sampai keadaan keluarganya. Pengendara itu pun menawari Ais untuk datang ke perusahaan rekamannya. Kebetulan, pak Rudi pengendara itu, memiliki studio rekaman. Bukan karena alasan kasihan, ataupun rasa bersalah, karena hampir menabraknya, namun karena Ais benar-benar memiliki bakat tersembunyi. Bahkan pak Rudi sudah mendengar lewat telinganya sendiri.
Mimpi Ais untuk bisa membahagiakan ibunya, menjadi salah satu faktor pendorong ia menerima tawaran itu. Ia berfikir, kalau ia berhasil kelak, mungkin ibunya akan berubah. Demi keyakinan itu, ia menyetujui tawaran pak Rudi.
Esok harinya, iapun datang ke kantor tujuannya. Di sana ia memulai mimpinya untuk bisa menjadi penyanyi yang sukses. Dua hari berlalu. Dan ia pun sudah menyelesaikan tugasnya. Dengan langkah penuh mimpi. Ia bergegas pulang. Berhrap bahwa mimpi yang sudah berada di depan matanya menjadi kenyataan.
Namun, sore itu langit menjadi gelap. Awan-awan murung menggelantung. Seolah merasakan keluh dunia. Darah merah yang bercucuran di jalan raya, menambah pekatnya suasana. Kerumunan orang yang menyaksikan kejadian tersebut, melengkapi duka air mata. Sosok kecil yang selalu semangat menjalani hidup, kini tergeletak tak berdaya. Kertas-kertas koran yang ditutupkan pada tubuhnya, telah menghalangi langkah cerianya. Tidak seperti waktu ia hampir tertabak Avansa dulu. Kini ia tidak bisa lagi membuka bulu matanya yang lentik itu.
***
Dulu, mimpinya berawal dari jalan raya, dan kini harus terhenti di jalan raya pula. Walau fisiknya sudah tidak bisa berkumpul lagi di tengah-tengah sesama musisi jalanan. Tapi namanya selalu bersama mereka. Lagu yang dulu pernah ia nyanyikan di studio rekaman, kini menjadi lagu andalan para pengamen jalanan. Nama Ais pun terkenal di berbagai kalangan, karena suaranya yang berhasil di tumpahkan lewat lagu. Pak Rudi telah berhasil mengenalkan suara Ais pada seluruh dunia. Kasetnyapun laris di pasaran.
Setiap bulannya, ibu Ais menerima penghasilan dari pihak label. Ibunya tidak lagi membenci Ais. Kini ia sadar, betapa berartinya sosok Ais bagi hidupnya. Dan kini, hanya penyesalan yang menemani Onah seumur hudupnya.
***
Karya: S. A. Wahyuni
No comments:
Post a Comment